Pertobatan
Karya : Deva Arya Pratama/XII IPS 1
SMA VIRGO FIDELIS BAWEN
Perkenalkan, aku adalah seorang anak yang waktu kecil dimanjakan oleh nenekku, karena nenekku yang merawat aku mulai saat aku bayi. Aku sering dirawat oleh nenekku karena ayah dan ibuku setiap hari bekerja. Aku terlahir bukan dari orang kaya maupun miskin, aku terlahir oleh keluarga yang sederhana dan selalu berkecukupan. Ayah dan ibuku hanya bekerja sebagai buruh pabrik dan saat aku masih bayi kakekku masih bekerja sebagai PNS, jadi aku sudah sangat berkecukupan. Aku terlahir didesa yang terletak dipinggiran kota dan berudara yang sejuk karena disekitar rumahku banyak pepohonan yang rimbun.
Aku mulai sekolah dari umur 4 tahun. Aku mulai bersekolah di TK VIRGO MARIA I di Ambarawa yang beryayasan Marsudirini. Saat masuk sekolah pertama kali, aku diantar oleh nenekku, karena nenekku yang sering merawat mulai saat aku bayi. Aku ke seolah diantar oleh nenekku naik angkutan umum, saat mulai masuk kelas, aku masih takut untuk ditinggal karena waktu itu aku sangat dimanja oleh nenekku, oleh karena itu saat masuk kelas aku masih ditunggu oleh nenekku, kemudian guru yang mengajar aku saat TK itu menyuruh nenekku untuk meninggalkan aku dari kelas. Aku tidak sadar jika aku ditinggal oleh nenekku keluar kelas, setelah beberapa saat aku menyadarinya akupun menangis mencari nenekku dan kemudian aku digendong oleh guru yang membimbingku itu agar aku tidak menangis lagi. Saat itu aku masih beum mengenal siapa-siapa yang kemudian beberapa lama aku mengenal satu persatu teman-temanku. Saat itu, kemudian aku mempunya adik perempuan
Setelah 1 tahun di TK kecil kemudian aku naik kelas ke TK Besar. Ya, itulah sebutan kelas yang berada di TK, berbeda dengan SD, SMP, SMA maupun SMK. Saat aku TK Besar, aku masih sering diantar oleh nenekku dan dijemput oleh nenekku, tapi aku sudah mulai terbiasa ditinggal oleh nenekku, jadi aku sudah tidak sedih lagi kalua aku ditinggal oleh nenekku. Pada waktu TK Besar ini, aku mulai mengenal yang namanya “teman”, aku mempunyai dua teman yang sangat akrab dengan aku yang bernama Adit dan Nesta, saat disekolah sering bermain bersama dan makan bersama. Saat aku di TK Kecil, semua teman-temanku baik-baik semua, setelah aku di TK Besar, aku menjumpai seorang anak yang nakal dan usil kepada semua teman-temanku, dia adalah siswa dari pindahan TK lain, tapi aku tidak peduli dengan dia. Saat aku mulai TK Besar, aku mengikuti kegiatan drum band dan tari, pada saat kegiatan drum band aku disuruh untuk memakai alat musik bass, karena aku berbadan cukup besar. Aku sering tampil di berbagai acara di sekolah. Kegiatan tari juga seperti itu, aku juga sering tampil di berbagai acara di sekolah, tari yang aku ainkan adalah tari jaranan saja.
Setelah 2 tahun di TK, akhirnya aku naik ke tingkat SD. Saat SD aku bersekolah di SD Pangudi Luhur Ambarawa. Pada saat mulai masuk sekolah, aku diantar oleh ayahku dan kakekku, saat ayahku bekerja masuk pagi atau malam, aku diantar oleh kakekku, sedangkan kalua ayahku bekerja masuk siang, aku diantar oleh ayahku. Saat masuk ke kelas aku masih belum mengenal siapa-siapa, aku hanya duduk diam dibangku dan melihat keadaan sekitar serta aku masih ditunggu oleh ayahku. Tidak lama kemudian bel pun berbunyi tertanda kelas mau dimulai, akupun ditinggal oleh ayahku dan teman-temanku juga ditinggal oleh orang tuanya. Beberapa bulan berlangsung, akupun akhirnya mengenali semua teman-temanku. Waktu itu, aku bisa dikatakan anak yang jahil, tapi kadang-kadang. Pada suatu saat waktu penilaian nyanyi, temanku ditunjuk oleh guru untuk bernyanyi di depan, saat dia bernyanyi, aku menggoda dia dari belakang karena saat itu aku duduk dibelakang. Saat temanku aku goda, dia malah menangis dan akupun merasa bersalah, temanku itu bernama Melky. Saat dia menangis dia berkata agar aku disalahkan.
“Kamu ini lho ngganggu” kata Melky kepadaku.
“Loh, nggak ya… bukan aku yang mengganggu, tapi dia” tuturku agar aku tidak disalahkan oleh guru sambil menunjuk teman sebelahku agar dia disalahkan.
Setelah beberapa bulan berlangsung, akupun naik ke kelas 2, hatiku merasa senang karena aku bisa naik ke kelas 2. Di kelas 2 ini sangat menyenangkan bagiku, karena masuk sekolah jam 9, pulang jam 12, itu disebabkan karena pergantian kelas. Setelah beberapa hari kemudian, aku diberi tugas oleh guruku untuk membuat jam dari barang bekas dirumah dan keesokan harinya dikumpulkan. Barang bekas yang ada dipikiranku saat itu hayalah kardus, karena membuat jam dari kardus itu sangat mudah. Setelah sampai dirumah, aku langsung bertanya kepada ayahku.
“Yah, ada kardus bekas nggak?” tanyaku kepada ayah.
“Nggak tahu, buat apa emang?” jawab ayahku dengan bingung.
“Ini yah, ada tugas sekolah unuk membuat jam dari barang bekas, aku ingin membuat jam itu dari kardus.” Jawabku.
“Bentar tak carikan dulu.” Jawab ayahku sambil pergi mencari kardus.
Setelah beberapa lama kemudian, ayahkupun mucul membawa kardus yang sangat banyak untukku.
“Nii kardusnya.” Tutur ayah kepadaku.
“Wihh, banyak sekali, aku Cuma butuk sedikit aja kok.” Tuturku sambil sedikit kaget.
“Ya kalau begitu jangan diambil semua, yang lain buat besok kalua ada tugas lagi” jawab ayahku.
“Oh, oke yah.”
Setelah itu, akupun segera ganti baju dan makan serta bergegas membuat tugas yang diberikan oleh guruku itu. Setelah beberapa lama aku membuat, akhirnya selesai juga. Tidak lama kemudian, ayahku datang membawa barang dan seperti mengejek hasil karyaku. Ternyata ayahku juga membuat jam dari barang bekas dan jauh lebih bagus dari punyaku. Aku berpikir bahwa besok jam yang akan aku bawa ke sekolah adalah milik ayahku agar aku mendapatkan nilai yang lebih bagus
Keesokan harinya, jam yang aku bawa adalah jam yang dibuat oleh ayahku, untung saja ayahku memperbolehkan. Setelah beberapa bulan, akupun naik ke kelas 3, di kelas 3 ini aku tidak akan menceritakan hal apapun, karena di kelas 3 ini tidak ada hal yang menyenangkan ataupun menyedihkan dan semuanya terlalu biasa – biasa saja. Setelah kelas 3 akupun naik ke kelas 4. Nah, dikelas 4 inilah aku sudah mulai menyukai seorang perempuan. Tidak tahu kenapa masih kecil aku sudah mulai suka perempuan. Pada suatu saat disekolah pada jam istirahat, banyak teman-temanku yang membawa hp ke sekolah dan memainkannya saat jam istirahat padahal pada aturan yang ada tertulis “Tidak boleh membawa handphone ke sekolah”, tapi teman-temanku pada nekat membawa hp ke sekolah, Lama-kelamaan, aku juga tertarik ingin beli handphone, akupun bertanya kepada temanku yang punya handphone.
“Eh, kamu beli hp dimana?” tanyaku kepada temanku.
“Oh, ini aku beli di Maju Mapan.” Jawab temanku.
“Maju Mapan letaknya dimana sih, belum pernah dengar aku.” Tanyaku sambil berpikir letak took tersebut.
“Ahh, itu lho yang deket dealer Honda di Ambarawa.” Jawab temanku sambil menjelaskan letaknya.
“Ohh, oke siap, makasih ya.” Tuturku kepada temanku.
Setelah pulang sekolah, akupun langsung mengajak ayahku beli handphone. Awalnya ayahku tidak setuju jika aku membeli handphone memakai uangku sendiri, tapi karena aku memintanya sambil menangis akhirnya ayahku mau mengantar aku membeli handphone, lalu terbelilah handphone yang aku inginkan. Jangan kira waktu jamanku SD sudah ada handphone layar sentuh, belum ada, jaman itu masih kebanyakan hp yang sering orang bilang didaerahku adalah “hp cetut”, itu adalah hp yang masih memakai tombol-tombol yang banyak sekali. Dari situlah aku mulai mendekati seorang perempuan yang aku sukai, seringkali kita kirim pesan melalui sms hamper setiap hari. Pada suatu saat waktu libur kenaikan kelas, aku memutuskan untuk menembak dia.
Pada waktu masuk sekolah, aku masih merasa malu untuk bercakap-cakap dengan dia, aku memang saat itu adalah anak yang pemalu, aku lebih senang ngobrol lewat sms dengan dia. Setelah 5 bulan aku berpacaran dengan dia, akhirnya aku putus, entah kenapa waktu putus itu rasanya biasa-biasa saja, apa mungkin sebenarnya aku tidak ada perasaan dengan dia atau bagaimana. Kelas 5 aku jalani dengan senang hati dan pada akhirnya aku naik ke kelas 6. Disinilah aku sudah mulai nakal, entah dari siapa aku diajarkan, bisa jadi karena teman-temanku dirumah, aku sudah mulai merokok namun secara diam-diam agar tidak dimarai oleh orang tua. Bagaimana mungkin orang tua tidak marah jika anaknya yang masih SD sudah merokok. Pada suatu saat, aku melakukan hal yang sangat bodoh saat aku dan temanku dirumah ingin merokok.
“Cuy, ada korek nggak?” Tanya temanku.
“O… iya, lupa aku.” Jawabku.
“Sana ambil korek dulu.” Suruh temanku unutk mengambil korek.
“Oke, tunggu sebentar.” Jawabku sambil berdiri menuju rumah.
Setelah aku sampai di rumah, aku bertanya kepada ayahku letak korek yang disimpan ada dimana.
“Yah, koreknya ada dimana ya?” Tanyaku kepada ayahku yang sedang mencuci pakaian.
“Itu ada di rak.” Jawab ayahku sambil menunjukkan letaknya.
“Dimana sih, aku nggak lihat.” Jawabku masih bingung mencari.
“Itu lho dibawah, buat apa to emang?” Tanya ayahku penasaran.
“Buat ngerokok.” Jawabku secara tidak sadar dan terlalu jujur.
Akupun kembali ke tempat yang aku dan temanku ingin ngerokok. Tidak lama kemudian akupun sampai.
“Nih, koreknya.” Tuturku kepada temanku.
“Oke.” Jawab temanku.
Selang beberapa menit kemudian, ada suara yang memanggil namaku, aku seperti mengenali suara tersebut, dan ternyata itu adalah ayahku, waktu itu aku ketahuan merokok dengan temanku. Walaupun aku sudah ketahuan merokok, aku tetap mengulanginya walaupun kadang-kadang saat kondisinya memungkinkan. Saat kelas 6 ini juga aku sudah mulai bisa mengendarai motor, setiap pulang sekolah biasanya aku dijemput oleh kakekku naik motor, akupun duduk didepan dan mencoba mengendarai motor kakekku, lama-lama aku bisa mengendarai motor bebek. Suatu saat, ada guru dari SMP PL Ambarawa yang datang ke kelas untuk mempromosikan sekolahnya, setelah kulihat-lihat ternyata sekolah itu sangat bagus dan aku menjadi ingin mendaftar disana walaupun sebelumnya aku ingin sekolah di SMP Kristen Lentera. Pendaftaranpun dimulai, aku dan teman-temanku yang mendaftar ke SMP PL berbarengan pergi ke sana. Pada awalnya saya takut jika tidak diterima, tetapi ternyata jika siswa dari SD PL mendaftar ke SMP PL semuanya diterima, akupun merasa lega mendengar informasi tersebut, Setelah selang beberapa bulan kemudian, akhirnya waktu ujianpun tiba, aku belum siap menghadapi ujian, aku mengusahakan belajar dengan baik agar bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun hal itu tidak terwujud, aku hanya mendapatkan nilai yang pas-pasan, tapi sudah bisa melebihi dari kkm. Untung saja aku sudah mendaftar di SMP PL dan diterima, jadi aku tidak takut untuk tidak diterima.
Libur kelulusanpun tiba, aku menghabiskan waktu itu untuk bermain PS di rumah temanku. Setiap hari aku datang kerumahnya untuk bermain PS, untung saja temanku punya, jika tidak aku dan temanku mungkin akan menyewa PS serta akan menghabiskan uang banyak. Sepanjang hari dari siang sampai malam kuhabiskan waktuku dengan bermain PS. Aku heran, walaupun bermain PS setiap hari kok rasanya tidak bosan-bosan. Linuran kelulusan akhirnya sudah selesai, sekarang aku sudah menginjak kelas 7 di SMP PL Ambarawa. Pada kelas 7 ini aku sudah mulai mandiri, aku sudah mulai berangkat sekolah sendiri dan pulang ke rumah sendiri, aku bisa seperti itu karena teman rumahku juga ada yang sekolah di SMP PL. Saat masuk sekolah aku merasa malu, karena belum banyak anak yang aku kenal, yang masih aku kenal hanya anak-anak yang dulunya dari sekolah SD PL saja, tapi utnung saja teman rumahku itu satu kelas denganku walaupun saat kegiatan MOS saja. Setelah beberapa hari MOS berlangsung, akhirnya pembagian kelas yang tetap dibagi, aku sudah menginginkan agar aku bisa satu kelas dengan teman rumahku itu, namun tidak terjadi, aku akhirnya berbeda kelas dengan temanku itu. Waktu itu, aku masih sering bermain bersama teman-teman lamaku dari SD, setiap hari Sabtu mereka serng bermain ke rumahku. Pernah suatu hari karena ingin uang sangu tidak berkurang, aku dan teman-teman pergi ke rumahku jalan kaki dari sekolah sampai rumah, jarak yang ditempuh kurang lebih 1 km, namun itu tidak terasa capek.
Dari situlah kenakalanku mulai bertambah, karena seringnya teman-teman pergi ke rumahku, aku jadi lebih sering naik motor sendiri dan mengendarainya dengan tidak berhatihati serta aku juga lebih sering merokok dengan teman-temanku itu. Selang beberapa minggu kemudian, aku diajak main temanku ke tempat wisata yang ada di Sumowono, padahal waktu itu aku masih belum boleh naik motor jauh-jauh dan hanya boleh lewat pedesaan saja.
“Teman-teman, besok Sabtu ke wisata yang ada di Sumowono yuk.” Ajak temanku yang bernama Libra.
“Buset, jauh amat. Tau sendiri kan kalua aku tidak boleh pergi jauh-jauh naik motor sendiri.” Jawabku agar tidak jadi pergi main.
“Halah, ayo lah, kita kan belum pernah pergi sama-sama naik motor.” Ujar temanku satu lagi yang bernama Davin.
“Ya udah kalua kalian maksa, lihat saja besok jadinya gimana.” Jawabku kepada Davin.
“Nah, gitu dong.” Ucap Libra.
Hari Sabtu telah tiba, aku sebenarnya tidak berani ngomong ke orangtuaku, jika aku ngomong ke orang tua bahwa aku ingin pergi ke Sumowono, maka orang tuaku tidak akan memperbolehkan, aku jadi tidak enak dengan temanku. Setelah aku berpikir agar aku bisa pergi main, aku menemukan solusinya, aku ngomong ke orang tuaku bahwa aku ingin pergi ke rumah Libra yang ada di Kupang Ambarawa. Sebenarnya berbohong kepada orang tua itu tidak baik, tapi mau bagaimana lagi, aku sudah berjanji dengan temanku. Kemudian aku diperbolehkan untuk pergi dan akhirnya aku dan teman-temanku jadi pergi ke Sumowono. Dari situ aku mulai berbohong kepada orang tua agar bisa pergi main dengan teman-temanku. Itu aku lakukan selama kelas 7. Kemudian aku naik ke kelas 8. Di kelas 8 ini aku sudah mulai mengurangi kenakalan yang kuperbuat itu. Aku sudah mulai berhenti merokok, namun tetap saja masih tergoda untuk merokok. Tapi aku berusaha untuk menguranginya karena aku sadar bahanya rokok bagi tubuh kita.
Pada kelas 8 ini, aku sudah mulai melakukan hal-hal yang bersifat positif. Temanku yang bernama Libra ini mengenalkan aku dengan sebuah mainan yang bernama airsoft. Airsoft adalah sebuah senjata yang berbentuk mainan dengan peluru kecil dan bulat, namun jangan sampai menembakan ke orang lain secara dekat. Aku mulai teracuni oleh airsoft, aku membeli airsoft pertama dengan mencari harga yang murah terlebih dahulu. Setelah airsoft yang aku pakai selama beberapa minggu, aku merasa kurang puas dengan airsoft itu, kemudian aku membeli lagi dengan harga yang sedikit lebih mahal dari yang sebelumnya, dan akhirnya aku sudah puas dengan airsoftku yang bary ini. Temanku yang bernama Libra ini meracuni semua teman-temanku untuk bermain airsoft. Teman-temanku yang akhirnya teracuni oleh Libra ini sebanyak 7 orang. Kemudian si Libra ini membuat group airsoft yang bernama SPAS. Suatu saat kemudian ada lomba airsoft antar pelajar yang berada di Solo, karena airsoft itu sebenarnya cabang olah raga. Kamipun berminat untuk mengikuti lomba tersebut. Tapi tidak semua dari 7 orang tamanku itu ikut semua, hanya 4 orang saja yaitu aku, Libra, Davin, Baha, dan Aldo. Persyaratan dari lomba tersebut sangatlah tmudah, kami harus meminta izin ke kepala sekolah dan harus membuat surat persetujuan dari sekolah karena itu membawa nama sekolah.
Hari pelaksanaan lomba akhirnya tiba, kami berkumpul di rumah Libra dan mulai berangkat ke Solo diantar oleh ayahnya Libra. Saat sampai sana terdapat logo sekolah SMP PL Ambarawa di spanduk yang sangat besar, kami merasa bangga telah membawa nama baik sekolah kami walaupun pada akhirnya kita kalah, tapi semua yang kita lakukan itu memiliki pesan tersendiri. Pada kelas 8 ini ku habiskan waktu dengan bermain airsoft sampai-sampai kebun depan rumahku aku jadikan sebagai tempat bermain airsoft, setiap hari Jumat dan Sabtu aku selalu bermain dengan teman-temanku itu. Kelas 8 telah berakhir dengan cepat tanpa disadari, akhirnya aku naik ke kelas 9. Di kelas 9 ini aku sudah mulai bertobat, aku sudah tidak lagi merokok dan jika ingin main jauh naik motor aku bilang jujur ke orang tuaku. Di kelas 9 ini aku mulai belajar alat musik gitar, karena aku melihat temanku bermain gitar itu sangat menyenangkan karena bisa memainkan beberapa lagu. Suatu saat ada lomba pertunjukan musikalisasi puisi, aku ditunjuk oleh teman-temanku untuk memainkan alat musik bass dan aku tidak bermain sendiri, aku ditemani oleh 2 orang temanku yang juga memaikan alat musik juga. Di kelas 9 ini tidak banyak hal yang aku lakukan selain belajar, karena aku sadar diri bahwa ujian sekolah sudah dekat. Aku terus belajar dan belajar sampai sebisa mungkin mendapat nilai yang bagus. Namun saat ujian tiba, hal itu tidak terjadi, aku hanya mendapatkan nilai yang pas-pasan seperti saat aku SD. Kemudian hari pelepasan tiba dan itu merupakan hari-hari yang tidak begitu menyenangkan bagiku karena teman-temanku telah menentukan sekolah yang akan mereka tuju masing-masing.
Selang beberapa minggu, aku mulai mendaftar ke sekolah SMA swasta yang terletak di Bawen yaitu SMA Virgo Fidelis. Awalnya aku berpikir bahwa hanya aku saja yang mendaftar dari SMP PL, ternyata ada banyak teman yang mendaftar di sana juga dan aku bertemu kembali dengan teman SD yang bernama Melky ini karena saat SMP Melky tinggal di Salatiga, jadi Ia tidak bersekolah di SMP PL Ambarawa. Mulai di SMA inilah aku mulai suka dengan musik walaupun tidak banyak alat music yang saya mainkan, pada waktu kelas 10 aku hanya bisa bermain gitar, bass, dan kajon karena itu yang sering aku mainkan saat digereja. Di gereja aku dan kedua teman gerejaku yaitu Vino dan Dhito sering bertugas untuk mengiringi musik di sekolah Minggu walaupun chord yang dimainkan masih melihat di internet. Pada kelas 11 ini aku mulai belajar alat musik drum, aku hanya bisa memainkan drum elektronik saja, belum bisa memainkan drum yng asli karena itu lebih sulit. Pada waktu-waktu mendekati bulan Desember, aku ditunjuk oleh pengurus gereja untuk mengiringi natal gereja, awalnya aku kaget karena aku sebenarnya masih belajar. Tapi dengan suatu keyakinan, aku bisa melakukannya dan berjalan dengan lancer, itu merupakan sebuah kebanggaan bisa mengiringi natal gereja.
Sudah bagus, lebih bagus lagi ditambahkan penggunaan majas/gaya bahasa untuk memperindah isi cerita.
BalasHapus